Hijab Terbaru | Tifs Cinta Dan Kasih Sayang

Jeritan Hati Seorang Perawan Tua


 Ini ialah sebuah kisah faktual yang menceritakan wacana jeritan hati seorang perawan renta  Jeritan Hati Seorang Perawan Tua

Ini ialah sebuah kisah faktual yang menceritakan wacana jeritan hati seorang perawan renta dari kota Madinah Al Munawaroh. Cerita ini begitu penuh dengan palajaran dan ide bagi para perempuan supaya tidak anti poligami. Karena sebenarnya poligami itu sesuatu yang halal asalkan bisa berlaku adil. Untuk mengetahui kisah lengkapnya, silahkan simak dongeng di bawah ini:

”Semula saya sangat bimbang sebelum menulis goresan pena ini dikarenakan ketakutan ku terhadap kaum perempuan alasannya ialah saya tahu mereka akan menyampaikan bahwa saya ini sudah gila, akan tetapi, realita yang saya alami dan dialami pula oleh sejumlah besar perawan-perawan tua, yang tidak seorang pun mengetahuinya, membuatku memberanikan diri. Aku akan menuliskan kisahku ini dengan ringkas". 

"Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya menyerupai gadis lainnya memimpikan seorang perjaka yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya membangun pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan bagaimana kami mendidik belum dewasa kami… dan.. dan".

"Aku ialah salah seorang yang sangat memerangi ta’adud (poligami). Hanya semata mendengar orang berkata kepadaku, “Fulan menikah lagi yang kedua”, tanpa sadar saya mendoakan supaya ia celaka. Aku berkata, “Kalau saya ialah istrinya yang pertama ,pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia telah mencampakkanku’. Aku sering berdiskusi dengan saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai dilema ta’addud. Mereka berusaha supaya saya mau mendapatkan ta’addud, sementara saya tetap keras kepala tidak mau mendapatkan syari’at ta’addud. Aku katakan kepada mereka, ‘Mustahil perempuan lain akan bersama denganku mendampingi suamiku”. Terkadang saya menjadi penyebab munculnya problema-problema antara suami istri alasannya ialah ia ingin memadu istri pertamanya, saya menghasutnya sehingga ia melawan kepada suaminya".

"Begitulah, hari terus berlalu sedangkan saya masih menanti perjaka impianku. Aku menanti… akan tetapi ia belum juga tiba dan akupun masih terus menanti. Hampir 30 tahun umurku dalam penantian. Telah lewat 30 tahun… oh Illahi, apa yang harus kuperbuat ? , Apakah saya harus keluar untuk mencari pengantin pria ? , saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata perempuan ini tidak punya malu. Jadi, apa yang akan kukerjakan ? , Tidak ada yang bisa ku perbuat, selain dari menunggu".

"Pada suatu hari dikala sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang dari perempuan berkata, ‘Fulanah jadi perawan tua”. Aku berkata kepada diriku sendiri, “Kasihan Fulanah jadi perawan tua”, akan tetapi… fulanah yang dimaksud itu ternyata aku. Ya Illahi ! , Sesungguhnya itu ialah namaku… saya telah menjadi perawan tua. Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian, kalian tidak akan bisa merasakannya. Aku dihadapkan pada sebuah kenyataan sebagai perawan tua. Aku mulai mengulang kembali perhitungan-perhitunganku, apa yang kukerjakan ?".

"Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan akupun ingin menjerit. Aku ingin seorang suami, seorang pria daerah ku bernaung di bawah naungannya, membantuku menuntaskan problema-problemaku… Saudaraku yang pria memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi ia bukan menyerupai seorang suami. Aku ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan. Akan tetapi, saya tidak mampu mengucapkan perkataan ini kepada kaum laki-laki. Mereka akan mengatakan, “Wanita ini tidak malu”. Tidak ada yang bisa kulakukan selain daripada diam. Aku tertawa… akan tetapi bukan dari hatiku. Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tanganku menggenggam bara api ? , Aku tidak sanggup".

"Suatu hari, saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, “Hari ini telah tiba calon pengantin, tapi saya menolaknya…” Tanpa terasa saya berkata, “Kenapa kau lakukan ? , Itu dihentikan ! ” , Ia berkata kepadaku, “Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya tahu kalau kau sangat memerangi ta’addud (poligami)”. Hampir saja saya berteriak di hadapannya, “Kenapa kau tidak menyetujuinya?” , Aku rela menjadi istri kedua, atau ketiga, atau keempat… Kedua tanganku di dalam api. Aku setuju, ya saya yang dulu memerangi ta’addud, kini menerimanya. Saudaraku berkata, “Sudah terlambat" ".

"Sekarang saya mengetahui pesan tersirat dalam ta’addud. Satu pesan tersirat ini telah membuatku menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain ? , Ya Allah, ampunilah dosaku. Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini kutujukan untuk kaum laki-laki, “Berta’addud-lah, nikahilah satu, dua, tiga, atau empat dengan syarat bisa dan adil. Aku ingatkan kalian dengan firman-Nya, “… Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita, dua, atau tiga, atau empat, maka bila kalian takut tidak bisa berlaku adil, maka satu…” Selamatkanlah kami. Kami ialah insan menyerupai kalian, mencicipi juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami ”.

"Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah bersuami, “Syukurilah nikmat ini alasannya ialah kau tidak mencicipi panasnya api menjadi perawan tua. Aku harap kau tidak murka apabila suamimu ingin menikah lagi dengan perempuan lain. Janganlah kau mencegahnya, akan tetapi doronglah ia. Aku tahu bahwa ini sangat berat atasmu. Akan tetapi, harapkanlah pahala di sisi Allah. Lihatlah keadaan suadarimu yang menjadi perawan tua, perempuan yang dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kau pasti akan mendapatkan pahala yang sangat besar dengan kesabaranmu ”.

"Engkau mungkin menyampaikan kepadaku, “Akan tiba seorang bujangan yang akan menikahinya”. Aku katakan kepadamu, “Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya jumlah perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap pria menikah dengan satu wanita, pasti banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi perawan tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi, pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya ”.

"Engkau mungkin juga mengatakan, “Semua itu tidak penting bagiku, yang penting suamiku tidak menikah lagi.” Aku katakan kepadamu, “Tangan yang berada di air tidak menyerupai tangan yang berada di bara api. Ini mungkin terjadi. Jika suamimu menikah lagi dengan perempuan lain, ketahuilah sebenarnya dunia ini ialah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kau egois, dan janganlah kau halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan tepat keimanan seseorang sehingga ia mengasihi untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri ”.

Demi Allah, kalau kau mencicipi api menjadi perawan tua, kemudian kau menikah, kau pasti akan berkata kepada suamimu “Menikahlah dengan saudariku dan jagalah ia. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan, kesucian, dan suami yang shalih.”

SubhanAllah...


sumber: Majalah Al-Usrah edisi 80 Dzulqa’dah 1420 H


loading...

Related : Jeritan Hati Seorang Perawan Tua