Hijab Terbaru | Tifs Cinta Dan Kasih Sayang

Kata - Kata Bergambar Doa Dan Cita-Cita Indah Penuh Makna

Tidak ada "orang baik" yang tidak punya masa lalu. Tidak ada pula "orang jahat" yang tidak punya masa depan. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menjelma lebih baik. Bagaimanapun masa lalunya dahulu, sekelam apapun lingkungannya dahulu, dan seburuk apapun perangainya di masa lampau.

Berilah kesempatan seseorang untuk berubah. Karena, seseorang yang "hampir membunuh Rasul" pun, sekarang berbaring di sebelah makam beliau. : *Umar bin Khattab*

Jangan melihat seseorang dari masa lalunya. Karena seseorang yang pernah "berperang melawan agama Allah" pun jadinya menjadi pedang-nya Tuhan : *Khalid bin Walid*

Jangan memandang seseorang dari status dan hartanya. Karena *sepatu emas Fir'aun berada di neraka. Sedangkan terompah Bilal bin Rabah terdengar di Syurga.*











INSPIRASI WANITA SOLEHAH

Kisah Nusaibah Binti Ka'ab - Sahabiyah Ansar Yang Berhati Waja
Hari itu Nusaibah sedang berada di dapur. Suaminya, Said sedang berehat di bilik tidur. Tiba-tiba terdengar bunyi gemuruh bagaikan gunung-gunung kerikil yang runtuh. Nusaibah meneka, itu niscaya tentera musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di daerah Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nusaibah meninggalkan apa yang sedang dilakukannya dan masuk ke bilik. Suaminya yang sedang tertidur dengan halus dan lembut dikejutkannya. “Suamiku tersayang,” Nusaibah berkata, “aku mendengar bunyi pelik menuju ke Uhud. Mungkin orang-orang kafir telah menyerang.”
Said yang masih belum sedar sepenuhnya, tersentak. Dia menyesal mengapa bukan dia yang mendengar bunyi itu. Malah isterinya.
Dia segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu dia menyiapkan kuda, Nusaibah menghampiri. Dia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”
Said memandang wajah isterinya. Setelah mendengar perkataannya menyerupai itu, tak pernah ada keraguan padanya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, kemudian terdengarlah derap bunyi langkah kuda menuju ke utara.

 Said pribadi terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang ikhlas itu semakin mengobarkan keberanian Said.
Di rumah, Nusaibah duduk dengan gelisah. 

Kedua anaknya, Amar yang gres berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memerhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said gres sahaja gugur di medan perang. Beliau syahid…”
Nusaibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”.

Setelah pemberi khabar itu meninggalkan tempat itu, Nusaibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih kerana tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Mahukah engkau melihat ibumu bahagia?”
Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.

“Ambilah kuda di sangkar dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi sampai kaum kafir terhapus.”
Mata Amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang saya tunggu semenjak dari tadi. Aku ragu-ragu seandainya Ibu tidak memberi peluang kepadaku untuk membela agama Allah.”
Putera Nusaibah yang berbadan kurus itu pun terus menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak terlihat ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. 

Di hadapan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, saya Amar bin Said. Aku tiba untuk menggantikan ayahku yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau yaitu perjaka Islam yang sejati, Amar. Tuhan memberkatimu….”
Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai petang. Pagi-pagi seorang utusan pasukan Islam berangkat dari perkhemahan mereka menuju ke rumah Nusaibah. 

Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada khabar apakah gerangannya?” serunya gementar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “Apakah anakku gugur?”
Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”
“Inna lillah….” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis.

“Kau berduka, ya Ummu Amar?”
Nusaibah menggeleng kecil. “Tidak, saya gembira. Hanya saya sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatkan? Saad masih kanak-kanak.”
Mendengar itu, Saad yang sedang berada sempurna di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan saya tunjukkan bahwa Saad yaitu putera seorang ayah yang gagah berani.”
Nusaibah terperanjat. 

Ia memandang puteranya. “Kau tidak takut, nak?”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nusaibah dengan bangga melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menawarkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga jadinya tibalah ketika itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya.
Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”
Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nusaibah. 

Mendengar isu selesai hidup itu, Nusaibah meremang bulu tengkuknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri saya sudah tidak mempunyai apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang bau tanah ini. Untuk itu izinkanlah saya ikut bersamamu ke medan perang.”
Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau wanita, ya Ibu….”
Nusaibah tersinggung, “Engkau meremehkan saya kerana saya wanita? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk syurga melalui jihad?”

Nusaibah tidak menunggu jawapan dari utusan tersebut. Ia bergegas menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nusaibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nusaibah yang dimuliakan Allah. 

Belum masanya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementara engkau kumpulkan saja ubat-ubatan dan rawatlah tentera yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”
Mendengar klarifikasi Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng bekas ubat-ubatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. 

Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang perajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terpercik darah di rambutnya. Ia memandang. Kepala seorang tentera Islam tergolek terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nusaibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi ketika dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akhir keningnya terserempet anak panah musuh, Nusaibah tidak sanggup menahan diri lagi. Ia bangun dengan gagah berani. Diambilnya pedang perajurit yang tewas itu. Dinaiki kudanya.

 Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. 

Hingga pada suatu waktu seorang kafir menghendap dari belakang, dan menebas putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.
Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nusaibah teronggok sendirian.

 Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada mangsa yang boleh ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat sekujur tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. 

Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?”
Nusaibah samar-sama memerhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah baginda?”
“Baginda tidak kurang suatu apapun…”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih luka parah, Nusaibah….”
“Engkau mahu menghalangi saya membela Rasulullah?”
Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya.

 Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, kemudian menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya . 

Namun, kerana tangannya sudah kudung, jadinya tak urung juga lehernya terbabat putus. Gugurlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.
Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. 

Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu yaitu bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, perempuan yang perkasa.”



Sumber http://mukjizattdoa.blogspot.co.id
loading...

Related : Kata - Kata Bergambar Doa Dan Cita-Cita Indah Penuh Makna