1. Kalau nggak pintar menyikapi, pacaran akan terasa seperti mengekang dan membatasi


Berfikir via https://www.pexels.com


Jika selesai berpacaran, absolut wajib selalu bersama. kalau ada apa-apa wajib bilang, nggak boleh terlambat ngingetin mengenai makan, ibadah, tidur. bahkan ke toilet pun wajib selalu bawa handphone. ah, takut si doi nelpon. hm, jadi nggak bebas.

mungkin pada antara kalian ada yang berdalih, "ih, kami pacaran nggak kayak gitu, kok." iya, awal pacaran aja dapat ngomong mirip itu. minggu pertama; janji nggak hendak berantem, cemburuan. namun pada minggu berikutnya, rata-rata selesai saling menuntut, marahan, dan akhirnya putus.

atau mungkin dalih seperti, "ah, kami pacaran hanya sebatas sebagai sahabat curhat doang, kok." oke, bila pacaran hanya sebatas curhat, kalian melihat aja seberapa lama? kalau disorientasi satu doi lagi sibuk, yang mau curhat absolut bakalan galau, 'kan? ujung-ujungnya, "kita frustasi aja! buat apa pacaran kalau sama-sama cuek?"

2. Bagaimana dengan boros? Hmm... Sadar nggak kalau pacaran terlalu lama juga bikin pengeluaran jadi nggak terkontrol?


Boros Uang via https://www.pexels.com


Bagi yang baru pertama kali pacaran, pasti sangat mementingkan pacarnya dari siapapun. Terkadang sampai melupakan keluarga sendiri; harus bisa ngasih hadiah ulang tahun terbaik untuk pacarnya. Bahkan, jadi ojek pribadi si doi sampai rela menghabiskan bensin. Belum lagi kalau traktik doi makan; boros, 'kan? Padahal rata-rata uang saja masih dari orangtua, duh.


Ada yang berdalih, "Kami sudah bisa menghasilkan uang sendiri, kok." Jika sudah bisa menghasilkan uang sendiri, alangkah baiknya jika uang itu ditabung untuk keperluaan masa mendatang atau untuk membahagiakan orangtua. Subhanallah.

3. Waktu untuk saling membahagiakan semakin terbuang, karena nggak ada kemajuan seperti membicarakan pernikahan


Pasangan via https://www.pexels.com


Terkadang pacaran bisa membuat kita lupa waktu. Pagi, siang, sore, malam selalu sibuk SMS dan teleponan dengan pacar. Mungkin kita penasaran dan gelisah jika tidak menyapa dia, ingin tahu sekarang dia lagi ngapain.


"Kami pacaran tahu waktu, kok. Bisa atur waktu masing-masing juga." Hm, okelah. Kalau bisa mengatur waktu, bagaimana dengan pacaran membuat kita gagal fokus? Akibat urus pacaran, kita nggak konsentrasi di kelas? Nilai turun karena pacaran?


Hahaha. Belum lagi yang pacaran harus bisa mengatur waktunya untuk berpacaran, ketemuan, dan nganterin doi? Yang tidak pacaran saja terkadang kesusahan mengatur waktu, kok!

4. Jika terlalu cinta, intensitas pertemuanmu dengan sahabat dan keluarga pun jadi taruhannya


Pergaulan via https://www.pexels.com


Kalau sudah berpacaran, biasanya lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacar ketimbang dengan sahabat; bahkan keluarga sendiri.


"Walaupun aku berpacaran, rasa perhatianku terhadap keluarga tidak berkurang." Ya, walaupun begitu, pacaran itu menghabiskan waktu. Kita jadi jarang bergaul terhadap saudara, lebih sering teleponan dengan pacar. Seperti poin ketiga tadi, pacaran sering membuat kita lupa waktu, telat makan, dan nilai menurun.


Kadang, jika memilki masalah dengan pacar, bisa-bisa keluarga yang kena getahnya.

5. Emosimu semakin nggak terkontrol karena banyaknya tekanan dan stres sana-sini




Ada yang langgeng dan bahagia, lalu ada pula yang putus nyambung. Semua itu dikarenakan emosional remaja yang masih labil. Jika sedang romantis akan saling berjanji manis, namun saat kecewa rasanya sakit luar biasa!


"Wajarlah kayak gitu. Itu bertujuan supaya kita lebih siap untuk hubungan selanjutnya." No! Justru ketika kita seperti itu, kita akan mengalami rasa sakit yang berkepanjangan!


Saat putus, kita bisa melihat mantan lagi PDKT-an dengan orang lain yang ternyata menjadi pihak ketiga saat berpacaran sebelumnya. Pokoknya lebih banyak asem pahitnyalah. Makanya jangan heran banyak orang yang tega membunuh atau bunuh diri karena diputusin pacarnya.

6. Risiko datangnya orang ketiga pun semakin besar. Yakin kamu siap?


Pihak ketiga via http://cheatingcouple.com


Menurutku, yang namanya pacaran itu adalah aktivitas, bukan ikatan. Ada yang PDKT-an tapi ngakunya sahabatan. Namun jika dipikirkan secara baik, pacaran itu tidak jelas. Memang apa buktinya pacaran, siapa yang bilang "sah" atau "meresmikan"?


Pacaran adalah aktivitas. Jadi wajar saja jika banyak sekali yang pacaran namun diduakan oleh pacarnya, bahkan mungkin sudah disekiankan. Kalau selingkuh saat pacaran juga mau nuntut ke mana? Paling-paling cuma bisa marah. Sedih, bukan?

7. Terakhir, inilah motivasi untukmu yang belum mendapat pacar atau ingin lebih serius memperjuangkan hubungan


Motivasi via http://instagram.com

  1. buat yang jomblo, bukannya tak laku, hanya aja yang kuasa yme selesai memberikanmu pasangan terbaik buat menjadi pendamping hidupmu.
  2.  pada dasarnya kemanusiaan diciptakan buat mencintai dan dicintai, namun berpacaran bukan solusi yang tepat, ada saatnya.
  3. yang kuasa menghadirkan rasa cinta bukan buat berpacaran, namun buat saling menyayangi dan mencintai. bukan hanya buat kemanusiaan namun buat sesama makhluk.
  4. masa remaja penuh godaan buat mencoba yang namanya pacaran. makanya berhati - hatilah.
  5.  lelaki yang bagus bukan yang berani mengatakan "aku cinta kamu, mau jadi pacarku?". namun mereka yang dapat menjaga perasaannya, mereka yang percaya jikalau yang kuasa selesai menyiapkan pendamping hayati yang berlebihan baik.kawan-kawanku sekalian, semoga bergunaartikel ini bermanfaat, ya!